Latest Posts

Kamis, 29 Agustus 2013

PENGUKURAN SWR PADA TRANSCEIVER


SMK NEGERI 1 CIMAHI
PENGUKURAN SWR
TRANSCEIVER
Nama   : Rady Yusaniar
ELEKTRONIKA
Kelas    : XII Teknik Transmisi A
Teknik Komunikasi Radio
Guru     : Drs. H. Sutoyo Indarjito, M.T
Experimen   : 21
                Tresna Yogaswara, S.Pd, M.T



I.                   TUJUAN
1.1     Dapat mengoperasikan perangkat transceiver.
1.2     Dapat mengukur SWR, forward dan reflected power pada transceiver.
1.3     Dapat menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi nilai SWR.

II.                PEMBAHASAN
Radio Transceiver dapat memancarkan sekaligus menerima gelombang radio. Metode komunikasinya adalah half duplex, dimana sinyal informasi dapat mengalir dalam dua arah secara bergantian. Dengan kata lain, waktu untuk mengirim gelombang radio (Tx) berbeda dengan waktu untuk menerima gelombang radio (Rx). Pada saat transceiver memancarkan gelombang radio, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya ialah SWR.
SWR (Standing Wave Ratio) adalah perbandingan antara tegangan maksimum dengan tegangan minimum. Standing Wave Ratio ini besarnya tergantung dari besarnya arus balik (reflection wave) pada pemancar. Semakin besar arus balik, maka SWR menjadi makin besar pula. SWR besar terjadi bila impedansi pada kabel koaksial tidak sesuai dengan transceiver maupun antena. Akibatnya akan timbul daya refleksi (reflected power) pada kabel yang berinterferensi dengan daya maju (forward power). Interferensi ini menghasilkan gelombang berdiri (standing wave) yang besarnya akan mempengaruhi kualitas dan umur pemancar.

III.             ALAT DAN BAHAN
3.1     Transceiver VHF.
3.2     SWR Meter.
3.3     Kabel coaxial RG-8.
3.4     Power Supply.
3.5     Antena VHF.

IV.             LANGKAH KERJA
4.1     Sediakan alat dan bahan yang diperlukan.
4.2     Hubungkan alat dan bahan seperti pada gambar berikut:

4.3     Atur tegangan power supply sebesar 12-13,8 V, kemudian nyalakan transceiver.
4.4     Gunakan daya yang rendah (Low atau Middle) untuk pemancar.
4.5     Atur frekuensi kerja pemancar mulai dari 140 – 160 MHz (step: 1MHz).
4.6     Ukur daya forward dan daya reflected yang ditunjukkan jarum SWR meter.
4.7     Ukur nilai SWR dengan melihat perpotongan antara jarum kiri dan kanan.
4.8     Hitung nilai SWR berdasarkan persamaan   lalu bandingkan dengan hasil pengukuran menggunakan SWR meter.
4.9     Hitung nilai koefisien refleksi dengan menggunakan persamaan .
NO
FREKUENSI
FOR (Ei)
(Watt)
REF (Er)
(Watt)
SWR
KOEFISIEN
REFLEKSI
PERSENTASE
REFLEKSI
UKUR
HITUNG
1
140,000
4,50
0,10
1,40
1,35
0,022
2,22
2
141,000
5,30
0,15
1,50
1,40
0,028
2,83
3
142,000
6,00
0,25
1,55
1,51
0,042
4,17
4
143,000
4,00
0,20
1,65
1,58
0,050
5,00
5
144,000
3,50
0,10
1,65
1,41
0,029
2,86
6
145,000
4,50
0,20
1,55
1,53
0,044
4,44
7
146,000
5,50
0,08
1,30
1,27
0,015
1,45
8
147,000
5,50
0,05
1,30
1,21
0,009
0,91
9
148,000
6,00
0,35
1,70
1,64
0,058
5,83
10
149,000
3,50
0,25
1,80
1,73
0,071
7,14
11
150,000
4,50
0,20
1,60
1,53
0,044
4,44
12
151,000
5,50
0,10
1,35
1,31
0,018
1,82
13
152,000
5,50
0,55
1,95
1,92
0,100
10,00
14
153,000
3,50
0,40
2,20
2,02
0,114
11,43
15
154,000
4,00
0,50
2,20
2,09
0,125
12,50
16
155,000
5,00
0,60
2,25
2,06
0,120
12,00
17
156,000
7,20
0,90
2,20
2,09
0,125
12,50
18
157,000
4,20
0,52
2,20
2,09
0,124
12,38
19
158,000
4,00
0,45
2,10
2,01
0,113
11,25
20
159,000
4,70
0,45
2,00
1,90
0,096
9,57
21
160,000
6,00
0,50
1,85
1,81
0,083
8,33

V.                KESIMPULAN
5.1    Nilai SWR pada transceiver ini bergantung  pada besarnya daya pancar yang dipantulkan kembali (reflected wave) ke perangkat. Semakin besar daya yang dipantulkan, maka semakin besar nilai SWR nya.
5.2    Panjang saluran serta panjang antena akan mempengaruhi terhadap nilai SWR. Pada praktek ini, panjang saluran dan antena yang digunakan hanya cocok untuk frekuensi kerja 147 MHz, karena pada frekuensi tersebut SWR yang dihasilkan adalah paling minimum yaitu sebesar 1,3 yang bisa dikatakan cukup baik untuk sebuah pemancar.
5.3   Kecocokan antara impedansi beban antena (ZL) dengan impedansi saluran dan output pemancar juga mempengaruhi nilai dari SWR. Untuk itu diperlukan matching load agar impedansi beban dengan saluran cocok.
5.4    Untuk melakukan penguran SWR pada suatu feeder line bisa menggunakan dummy load sebagai pengganti antena. Dummy load ini berfungsi menyerap RF yang masuk kepadanya sehingga tidak terjadi RF balik dari luar feeder line (coaxial cable), dengan demikian SWR feeder line dapat diukur secara murni.

Related Post:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Copyright © 1995 - 2015 Radyusaniar™. All Fights Reserved | Powered by Transmission Group®